UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS XI
MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DI MA
DARUS SHIBYAN BALUNG






ROYHUL MU’AM, S.E
MA Darus Shibyan Balung
Jl. Umbulsari no.17 karangduren





ABSTRAK
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang harus diajarkan di sekolah tentunya memiliki peran penting dalam mencapai tujuan pendidikan yang diamanahkan Undang-Undang, yaitu membekali peserta didik dengan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif. Oleh karena itu, guru dituntut untuk mampu menggunakan model pembelajaran agar materi mudah dimengerti atau dipahami oleh siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan aktivitas dan hasil belajar matematika siswa kelas XI melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD di MA Darus Shibyan dengan subjek penelitian siswa kelas XI dengan jumlah siswa 22 siswa yang terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 10 siswa perempuan. Subjek penelitian diambil secara acak purposive. Prosedur pelaksanaan tindakan merupakan suatu siklus yang terdiri dari 4 (empat ) tahap yaitu : 1). Perencanaan, 2) Pelaksanaan, 3) observasi, dan 4). Refleksi. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan Evaluasi/Tes,. Hasil observasi aktivitas menunjukkan bahwa adanya peningkatan pada setiap siklus. Begitu juga dengan hasil belajar pada setiap siklus mengalami peningkatan.

Kata Kunci : Hasil Belajar, Model Pembelajaran, Kooperatif  Tipe STAD









1. PENDAHULUAN

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang harus diajarkan di sekolah tentunya memiliki peran penting dalam mencapai tujuan pendidikan yang diamanahkan Undang- Undang, yaitu membekali peserta didik dengan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif. Di era globalisasi saat ini, arus informasi mengalir deras seolah tanpa hambatan, menghantarkan kesuasana kehidupan semakin rumit (complicated), cepat berubah dan sulit diprediksi (unpredictable). Kondisi ini membawa persaingan yang sangat ketat untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Untuk menghadapi kondisi seperti di atas, dunia pendidikan (khususnya pembelajaran matematika) harus memberi bekal yang cukup pada generasi penerus bangsa. Pelajaran Matematika merupakan pelajaran yang pada umumnya kurang disenangi oleh sebagian besar siswa. Hal ini menuntut seorang guru untuk dapat mentransfer materi pembelajaran dengan cara yang tepat dan efektif. Seorang guru dituntut untuk tidak hanya menyampaikan materi secara tuntas dan jelas tetapi juga dituntut untuk dapat memberikan semangat dan motivasi bagi siswa. Seorang guru harus mampu menciptakan suasana belajar yang dapat meningkatkan motivasi siswa
untuk turut aktif dalam kegiatan pembelajaran. Menurut Sardiman (1996), motivasi belajar adalah merupakan faktor psikis yang bersifat non-intelektual. Peranannya yang khas adalah dalam penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar. Siswa yang memiliki motivasi kuat, akan memiliki banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar. Berdasarkan kutipan diatas, dapat disimpulkan bahwa apabila siswa  ingin melakukan kegiatan belajar harus memiliki motivasi maupun kemauan yang kuat untuk menjalankan kegiatan belajar, Karena dengan motivasi yang kuat akan membuat anak merasa semangat dan senang dalam kegiatan belajar. Motivasi  bisa berasal dari dalam diri siswa itu sendiri maupun dari orang lain, dengan adanya motivasi yang kuat maka akan menimbulkan kreatifitas peserta didik sehingga siswa aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Berdasarkan data yang didapat mengenai hasil ulangan harian matematika kelas XI yang didasarkan pada Kriteri Ketuntasan Minimal (KKM) di MA Darus Shibyan, siswa yang mendapat nilai = 70 lebih kurang 67%. Sedangkan metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar adalah metode ceramah dalam memberikan materi, tanya jawab,pemberian tugas, serta evaluasi untuk melihat hasil belajar. Kegiatan belajar mengajar seorang guru tidak hanya terpaku dengan menggunakan satu metode saja, tetapi boleh menggunakan metode yang bervariasi, karena dengan metode yang bervariasi pengajaran tidak membosankan, tetapi menarik perhatian anak didik dan diharapkan dengan metode yang bervariasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Salah satu model pembelajaran yang dapat membantu siswa bekerjasama adalah model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Division) merupakan salah satu alternatif dalam pembelajaran matematika, Model pembelajaran bentuk kooperatif tipe STAD merupakan model pembelajaran kelompok yang sederhana karena dalam model pembelajaran STAD, siswa dalam satu kelas dipecah menjadi kelompok dengan anggota 4-5 orang, setiap kelompok terdiri dari laki-laki dan perempuan, berasal dari berbagai suku, yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Melalui model pembelajaran ini siswa dalam satu kelompok saling membantu, kerjasama dalam menyelesaikan suatu masalah untuk mencapai tujuan bersama. Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD merupakan pendekatan Cooperatif Learning yang menekankan pada aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai hasil belajar yang maksimal. Berdasarkan uraian diatas, maka Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas XI melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD di MA Darus Shibyan Balung. Adapun manfaat dalam penelitian adalah :
1.      Bagi Guru, dapat dijadikan informasi dan alternatif strategi dalam melaksanakan pembelajaran yang tepat dan baik dalam rangka perbaikan pembelajaran matematika di kelas.
2.      Bagi Siswa, dapat memberikan pengalaman baru siswa tentang pembelajaran menggunakan model pembelajaran STAD, sehingga melibatkan siswa aktif dan saling kerjasama.
3.      Bagi Sekolah, Memberi masukan dalam pengembangan strategi maupun metode dalam kegiatan belajar mengajar.

DASAR TEORI

1. Proses Belajar Mengajar
            Belajar tidak akan pernah lepas dari kehidupan  manusia, karena dengan belajar seseorang akan memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kecakapan dalam hidup bermasyarakat. Belajar dapat melalui serangkaian kegiatan misalnya, dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya.  Belajar dapat juga dikatakan sebagai suatu tingkah laku dalam pelaksanaan dari suatu usaha pendidikan. Dalam keseluruhan proses pendidikan sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok, itu berarti bahwa berhasil atau tidaknya pencapaian suatu tujuan pendidikan banyak tergantung pada bagaimana proses belajar mengajar yang dialami siswa.
Menurut Slameto (2003) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Sedangkan menurut Dimyati (2006) Belajar adalah kegiatan individu memperoleh pengetahuan, perilaku, dan keterampilan dengan cara mengolah bahan belajar. Dalam belajar tersebut individu menggunakan ranah-ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. 
Berdasarkan kutipan diatas, yang dimaksud dengan belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang dilakukan oleh seseorang sehingga orang tersebut memperoleh pengetahuan, perilaku dan keterampilan dengan menggunakan ranah-ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Mengajar adalah suatu kegiatan dimana pengajar menyampaikan pengetahuan/pengalaman yang dimiliki kepada peserta didik (Hudoyo, 1990). Sedangkan menurut sardiman (1996) mengajar adalah usaha untuk menciptakan kondisi yang kondusif agar berlangsung kegiatan belajar yang bermakna dan optimal.
Berdasarkan kutipan diatas, dapat disimpulkan bahwa mengajar adalah melakukan kegiatan belajar, dimana seorang pengajar berperan dalam menyampaikan pengetahuan kepada peserta didik juga sebagai pencipta kondisi yang kondusif agar dalam kegiatan belajar berlagsung secara optimal.

2.  Pengertian Hasil Belajar

Hasil belajar memiliki peranan yang sangat penting dalam kegiatan belajar. Karena dengan adanya hasil belajar dapat diketahui apakah siswa menguasai suatu materi atau belum, apakah siswa boleh melanjutkan ke materi berikutnya atau perlu pengulangan dalam kegiatan belajar mengajar. Hasil belajar juga dapat dijadikan acuan bagi seorang guru, jika hasil belajar siswa memuaskan maka guru tersebut sudah bisa dikatakan berhasil dalam kegiatan belajar mengajar, namun bila hasil belajar kurang memuaskan maka wajib bagi seorang guru mencari cara agar hasil belajar siswa mengalami peningkatan.
Menurut Dimyati (2006) Hasil belajar merupakan suatu puncak proses belajar. Hasil belajar terjadi terutama berkat evaluasi guru. Hasil belajar dapat berupa dampak pengajaran dan dampak pengiring. Sedangkan Sudjana (Kunandar, 2008) hasil belajar adalah suatu akibat dari proses belajar dengan menggunakan alat pengukuran, yaitu berupa tes yang disusun secara terencana, baik tes tertulis, tes lisan, maupun tes perbuatan. Sedangkan S.Nasution (Kunandar, 2008) juga berpendapat bahwa : Hasil belajar adalah suatu perubahan pada individu yang belajar, tidak hanya mengenai pengetahuan, tetapi juga membentuk kecakapan dan penghayatan dalam diri pribadi individu yang belajar. hasil belajar juga bisa berbentuk data kuantitatif maupun kualitatif.
Berdasarkan  kutipan diatas, hasil belajar adalah suatu hasil  yang diperoleh siswa karena siswa tersebut telah melakukan kegiatan belajar, tidak hanya mengenai pengetahuan, tetapi juga membentuk kecakapan dan penghayatan dalam diri pribadi individu yang belajar, hasil belajar juga bisa berbentuk data kuantitatif maupun kualitatif.
            Tujuan dan Fungsi Penilaian Hasil Belajar dalam Soetjipto dan kosasi, R.(1994) adalah: a) Memberikan umpan balik kepada guru dan siswa dengan tujuan memperbaiki cara belajar mengajar, mengadakan perbaikan dan pengayaan bagi siswa, serta menempatkan siswa pada situasi belajar mengajar yang lebih tepat sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimilikinya;  b) memberikan informasi kepada siswa tentang tingkat keberhasilannya dalam belajar dengan tujuan untuk memperbaiki, mendalami, atau memperluas pengajaran; c) Menentukan nilai hasil belajar siswa yang antara lain dibutuhkan untuk pemberian laporan kepada orang tua, penentuan kenaikan kelas, dan penentuan kelulusan siswa.

3. PEMBELAJARAN KOOPERATIF

Pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pengajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerja sama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran. Pembelajaran kooperatif telah dikembangkan secara intensif melalui berbagai penelitian, yang tujuannya untuk meningkatkan kerjasama akademik, membentuk hubungan positif,menggembangkan rasa percaya diri, serta meningkatkan kemampuan akademik melalui aktivitas
kelompok. Model pembelajaran kooperatif memungkinkan semua siswa dapat menguasai materi pada
tingkat penguasaan yang relatif sama atau sejajar.

3.1 Pengertian Pembelajaran kooperatif

Menurut Rusman (2010) pembelajaran kooperatif merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yag bersifat heterogen. Menurut Nurulhayati (2002) pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam dalam satu kelompok kecil untuk saling berinteraksi. Berdasarkan dari kutipan, dapat disimpulkan bahwa pembelajaan kooperatif adalah model pembelajaran dimana siswa bekerja sama dalam kelompok kecil dengan kemampuan yang heterogen, membentuk hubungan yang positif, mementingkan kerjasama  dalam mencapai hasil yang optimal dalam belajar, serta meningkatkan kemampuan akademik melalui aktifitas kelompok. Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif menurut Rusman (2010): (1) Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menyelesaikan materi belajarnya; (2) Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah; (3) Bila mana mungkin, anggota kelompok juga berasal dari ras, budaya, suku, dan jenis kelamin yang berbeda; (4) Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok dari pada individu. Unsur-Unsur Pembelajaran kooperatif (Kunandar, 2008). Unsur-Unsur pembelajaran kooperatif paling sedikit ada empat macam, yakni :
1)      Saling Ketergantungan positif, dalam pembelajaran kooperatif, guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan antar sesama, maka mereka merasa saling ketergantungan satu sama lain. 
2)      teraksi Tatap Muka, interaksi tatap muka menuntut para siswa dalam kelompok dapat saling bertatap muka sehingga mereka dapat melakukan dialog, tidak hanya dengan guru tetapi juga dengan sesama siswa. Dengan interaksi tatap muka, memungkinkan para siswa dapat saling menjadi sumber belajar, sehingga sumber belajar menjadi variasi.
3)      Akuntabilitas individual, meskipun pembelajaran kooperatif menampilkan wujudnya dalam belajar kelompok, tetapi penilaian dalam rangka mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadapsuatu materi pelajaran dilakukan secara individual.
4)      Keterampilan menjalin hubungan antar pribadi, melalui pembelajaraan kooperatif akan menumbuhkan keterampilan menjalin hubungan antar pribadi. Hal ini dikarenakan dalam pembelajaran kooperatif menekankan aspek-aspek : tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman, mengkritik ide dan bukan mengkritik orangnya, berani mempertahankan pikiran logis, tidak mendominasi orang lain, mandiri, dan berbagai sifat positif lainnya. 

3.2 Model Pembelajaran  Student Team Achievement Division (STAD)

Tipe STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan Kawan-kawan dari Universitas John Hopkins menitik beratkan pada pemberian motivasi kepada sekelompok siswa agar dapat berinteraksi dalam kelompoknya. Depdiknas (2004), Student Team Achievment Division (STAD) atau Tim SiswaKelompok Prestasi merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Dalam STAD siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok dengan anggota 4-5 orang, setiap kelompok haruslah heterogen. Guru menyajikan pelajaran, dan kemudian siswa bekerja di dalam tim mereka untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya, seluruh siswa dikenai kuis tentang materi itu, dan pada saat kuis ini tidak boleh saling membantu. Sedangkan menurut Rusman (2010) Student Team Achievment Division (STAD) adalah Siswa dibagi menjadi kelompok beranggotakan empat orang yang beragam kemampuan, jenis kelamin, dan suku. Pada pembelajaran tipe ini pertama-tama guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim tersebut telah menguasai pelajaran tersebut. Kemudian seluruh siswa dikenai kuis  tentang materi itu dengan catatan, saat kuis mereka tidak boleh saling membantu.  
Berdasarkan kutipan diatas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD)  adalah model pembelajaran tipe kooperatif yang sederhana, dimana siswa dalam satu kelas dikelompokkan dengan anggota 4 atau 5 orang, dimana pada setiap kelompok memiliki aggota yang heterogen. setelah guru menyajikan pembelajaran kemudia siswa bekerja dalam kelompok, mereka saling bekerja sama untuk memahami materi pembelajaran, dan setelah itu mereka di kenai kuis, namun dalam kuis tersebut mereka tifdak boleh saling membantu.
Langkah-Langkah model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Kunandar, 2008) adalah sebagai berikut :
1.      Para siswa didalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok, masing-masing terdiri atas 4 atau 5 anggota kelompok. Tiap kelompok mempunyai anggota yang heterogen, baik jenis kelamin, ras, etnik, maupun kemampuan (prestasinya).
2.      Guru menyampaikan materi pembelajaran.
3.      Guru memberikan tugas kepada kelompok dengan menggunakan lembar kerja akademik, dan kemudian saling membantu untuk menguasai materi pelajaran yang telah diberikan melalui tanya jawab atau diskusi antar sesama anggota kelompok.
4.      Guru memberikan pertanyaan atau kuis kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab pertanyaan dari guru siswa tidak boleh saling membantu.
5.      Setiap akhir siklus pembelajaran guru memberikan evaluasi (tes) untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap bahan akademik yang telah dipelajari.
6.      Penghargaan Kelompok, setiap siswa dan tiap  kelompok diberi skor atas penguasaannya terhadap materi pembelajaran, dan kepada siswa secara individual atau kelompok yang meraih prestasi tinggi atau memperoleh skor sempurna diberi penghargaan. 
Ada dua tahap dalam pemberian penghargaan kelompok:
1). Menghitung nilai perkembangan siswa
Ide yang mendasari poin perkembangan individual adalah memberikan kepada siswa sasaran yang dapat dicapai jika mereka bekerja lebih giat, dan memperlihatkan prestasi yang lebih baik dibandingkan dengan yang telah dicapai sebelumnya. Perhitungan poin perkembangan ini akan disumbangkan untuk menghitung poin kelompok degan cara hasil tes setiap siswa diberi poin peningkatan yang ditentukan berdasarkan selisih skor tes terdahulu, dengan menggunakan skala yang diberikan pada tabel 1 dibawah ini.
Tabel 1
Nilai Perkembangan Siswa
Nilai Tes
Skor
Perkembangan
Lebih dari 10 poin dibawah skor dasar
0 poin
10 poin dibawah sampai 1 poin dibawah skor dasar
10 poin
Skor dasar sampai 10 poin diatas skor dasar
20 poin
Lebih dari 10 poin diatas skor dasar
30 poin
Pekerjaan sempurna (tanpa memperhatikan skor dasar)
30 poin
2). Menghargai Prestasi Kelompok
Setelah dilakukan perhitungan  poin peningkatan  individual, dilakukan pemberian penghargaan kelompok. Penghargaan kelompok diberikan berdasarkan pada nilai perkembangan. Untuk menentukan poin kelompok dihitung berdasarkan nilai perkembangan semua anggota, dibagi dengan banyaknya anggota kelompok seperti pada tabel 2.            
Tabel 2
Penghargaan Prestasi Kelompok
Nilai Kelompok (N)
Penghargaan
15 ≤ N < 20
Good team (team yang bagus)
20 ≤ N ≤ 25
Good team (team yang hebat)
N ≥ 25
Super team (team yang super)

3. METODE PENELITIAN

3.1 Setting Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di MA Darus Shibyan Balung. Sebagai subjek dalam penelitian ini adalah kelas XI yang diambil secara acak purposive sampling dengan jumlah siswa sebanyak 22 orang, terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 10 siswa perempuan.
a.       Siklus Penelitian 
Penelitian ini akan dilaksanakan melalui tiga siklus untuk melihat peningkatan aktivitas dan
hasil belajar dalam mengikuti mata pelajaran matematika melalui model pembelajaran Student Team
Achievement Division (STAD). Tahapan pelaksanaan tindakan yang akan dilakukan dalam penelitian
ini adalah menggunakan model yang dikembangkan oleh Kemmis dkk (1982) dalam Manejemen
Penelitian Arikunto (2000) adalah : (a) Perencanaan, (b) Pelaksanaan, (c) Observasi, dan (d) Refleksi. 
Tahap- tahap dari siklus diuraikan sebagai berikut :
1). Perencanaan
a.       Melakukan analisis kurikulum untuk mengetahui kompetensi dasar yang akan disampaikan kepada siswa dengan menggunakan model   pembelajaran Student Team Achievement Division ( STAD)
b.      Membuat rencana pembelajaran  model pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) 
c.       Menyusun lembar kegiatan yang akan diberikan pada siswa saat diskusi berlangsung (Belajar dalam kelompok)
d.      Mempersiapkan lembar pengamatan (observasi), mempersiapkan perangkat tes hasil tindakan
2). Pelaksanaan 
a.       Membagi siswa dalam kelompok
b.      Menyajikan materi pelajaran
c.       Diberikan Lembar Kerja Siswa ( Lembar diskusi )
d.      Dalam diskusi kelompok, guru mengarahkan kelompok
e.       Salah satu dari kelompok diskusi, mempresentasikan hasil kerja kelompok
f.       Melakukan pengamatan atau observasi
g.       Pemberian tes akhir siklus
h.      Pemberian Penghargaan 
3). Observasi 
Observasi atau pengamatan dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang telah
dipersiapkan oleh peneliti.
4). Refleksi 
Refleksi adalah mengingat dan merenungkan suatu tindakan persis seperti yang telah dicatat dalam observasi. Refleksi berusaha untuk memahami proses, masalah, persoalan, dan kendala yang nyata dalam tindakan strategis. (Kunandar,2008)Refleksi dilakukan dengan menganalisis hasil tes dan observasi, serta menentukan perkembangan kemajuan dan kelemahan yang terjadi, sebagai dasar perbaikan pada siklus berikutnya.

3.3 Teknik Pengumpulan  Data 
Teknik Pengumpulan  data dalam penelitian ini adalah :
1). Observasi
Observasi adalah pengamatan kepada tingkah laku pada situasi tertentu (Sudjana, 2005). Observasi dilakukan untuk mengamati aktivitas siswa selama kegiatan pengajaran dengan menggunakan model pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD). Data aktivitas siswa diperoleh dengan lembar observasi.
2). Tes
Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk menggukur
keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Arikunto, 2000). Tes menggunakan butir soal/instrument soal untuk mengukur hasil belajar siswa, yang berbentuk essay yang berjumlah 5 soal.  Tes diberikan setelah tindakan selesai dan dilakukan pada setiap akhir siklus. Tes ini digunakan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar matematika siswa.

3.4 Teknik Analisis Data   
1). Teknik analisis data observasi
Selama kegiatan pembelajaran berlangsung aktivitas siswa dalam kelompok diamati. Teknik observasi dilakukan secara langsung oleh peneliti pada saat pemberian pengajaran dengan  model pembelajaran kooperatif  tipe  STAD. Deskriptor  yang diamati dalam observasi ini adalah 
a.       Siswa bertanya pada guru
b.      Siswa dapat  menjawab soal dari guru
c.       Siswa mempresentasikan hasil belajar kelompok
Dari aspek-aspek yang akan diobservasi setiap deskriptor yang tampak pada masing-masing siswa diisikan kedalam lembar observasi dengan memberi tanda ( v ) dan diberi skor berdasarkan tabel 3 berikut.
Tabel 3
Kriteria Aktivitas Siswa
Skor
Kategori
Kriteria
4
Muncul 3 Deskriptor
Sangat Aktif
3
Muncul 2 Deskriptor
Aktif
2
Muncul 1 Deskriptor
Cukup Aktif
1
Tidak Muncul 1
Kurang

Diskriptorpun

Setelah hasil observasi siswa dikumpulkan, persentase dekriptor diperoleh dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

páµ¢ = dáµ¢       x 100%                                (Purwanto,2001)
       n
2). Teknik analisis data tes
Data hasil belajar siswa diperoleh dari hasil tes dalam bentuk soal essay sebanyak 5 (lima) soal. Hasil tes siswa pada setiap akhir siklus diolah dengan cara memberikan skor pada masing-masing butir soal, setiap butir soal diberi bobot berdasarkan tingkat kesukarannya. Hasil tes dinyatakan dalam  rentangan skor 0-100 nilai terendah 0 dan tertinggi 100. Setelah didapat skor hasil belajar seluruh  siswa, kemudian dikategorikan ke dalam ketuntasan hasil belajar yang didasarkan pada Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) di MA Darus Shibyan Balung, siswa dikategorikan telah tuntas dalam belajar apabila siswa mendapat nilai
Tabel 4
Kategori Hasil Belajar Siswa
Rata-rata nilai siswa kategori
Kategori
90 – 100
Tuntas
80 – 89
Tuntas
70 – 79
Tuntas
≤69
Belum Tuntas
(sumber MA Darus Shibyan Balung)
           
P = R        x 100%                                            (Purwanto,2001)
                  n
4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas XI di MA Darus Shibyan Balung dengan jumlah siswa 22 orang, terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 10 siswa perempuan. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam 3 siklus, sebelum siklus pertama dilaksanakan, peneliti mengadakan pembelajaran dengan kegiatan pembelajaran yang biasa dilakukan yaitu metode ceramah atau pemberian materi, tanya jawab, kemudian diberi soal latihan. Pada pokok bahasan lingkaran. Dari hasil analisis hasil  belajar sebelum siklus diperoleh data seperti tabel 5 sebagai berikut.
Tabel 5
Data Analisis Hasil Belajar Sebelum Tindakan (So)
Interval Nilai
Frekuensi
(f)
Persentase
(%)
Kategori
90 – 100
0 orang
0 %
Tuntas
80 – 89
8 orang
33,3 %
Tuntas
70 – 79
3  orang
13,3 %
Tuntas
≤ 69
11 orang
53,3 %
Belum Tuntas
Jumlah
22 orang
100 %


Dari tabel 5 diatas, dapat disimpulkan bahwa hasil tes siswa sebelum tindakan pembelajaran menunjukkan bahwa dari 22 jumlah siswa belum ada siswa yang mencapai nilai pada interval 90-100, 8 siswa ( 33,3%) telah mencapai interval nilai antara 80 - 89, 3 siswa (13,3%) mencapai interval nilai 70 79, 11 siswa (53,3%) mencapai nilai = 69. Sebelum siklus ini bila ditinjau dari ketuntasan hasil belajar berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal = 70 (tuntas) baru 11 siswa (46,6%) yang tuntas sedangkan 11 siswa (53,3%) belum tuntas.

4.1 Hasil Penelitian Siklus Pertama (S1)
Hasil penelitian diuraikan dalam tahap yang berupa siklus pembelajaran yang dilakukan dalam proses belajar mengajar dikelas. Siklus pertama ini dilaksanakan  dengan standar kompetensi. Menentukan unsur, bagian lingkaran serta ukurannya dengan materi “Menentukan nilai phi”. Kegiatan pembelajaran menggunakan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD). Sesuai dengan penelitian ada dua hal yang perlu dikemukakan sebagai hasil penelitian yaitu :
a). Observasi 
Observasi dilakukan untuk mengetahui aktivitas siswa dalam kegiatan belajar mengajar melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Observasi akvitas dilakukan selama berlangsungnya kegiatan belajar mengajar dan kegiatan dalam kelompok belajar. Ditinjau dari aktivitas siswa dalam kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, dapat dilihat pada tabel 6 :

Tabel 6
Data Hasil Pengamatan Deskriptor Aktifitas Siswa
Dengan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD pada Siklus Pertama
No
Deskriptor yang diamati
Hasil pengamatan
Frekuensi
(f)
Persentase
(%)
1
Siswa bertanya pada guru
2 orang
17%
2
Siswa dapat menjawab pertanyaan dari guru
11 orang
50%
3
Siswa mempresentasikan hasil belajar kelompok
9 orang
40%

Dari tabel 6 diatas, dapat disimpulkan bahwa pada siklus pertama (S1) dengan  pembelajaran   kooperatif tipe STAD terdapat 2 orang  (17%) jumlah siswa yang bertanya pada guru, 11 orang siswa (50%) dapat menjawab 
soal yang diberikan guru, dan 9 orang siswa 40% sudah berani mempresentasikan hasil belajar kelompok. Dengan memperhatikan tiga macam aktivitas siswa diatas sebagai deskriptor pada siklus pertama (SI) kategori  aktivitas siswa dalam belajar dapat dilihat pada tabel 7 berikut :  


Tabel 7
Distribusi Frekuensi Tingkat Aktivitas Siswa
Dengan  Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD pada Siklus Pertama
Tingkat aktifitas siswa
Hasil pengamatan
Frekuensi (f)
Presentase (%)
Sangat aktif
3 orang
13,3 %
Aktif
2 orang
10   %
Cukup aktif
10 orang
46,7  %
Kurang aktif
7 orang
30    %
Dari tabel 7 diatas, dapat disimpulkan bahwa dari 22 siswa terdapat 3 siswa 13,3%) pada tingkat aktivitas sangat aktif, 2 siswa (10%) pada tingkat aktifitas aktif, 10 siswa (46,7%) pada tingkat aktifitas cukup aktif , dan 7 siswa (30%) pada tingkat aktifitas kurang aktif. 
b).  Hasil Belajar
Ditinjau dari perolehan nilai hasil belajar sebelum tindakan dan siklus pertama yang telah diperiksa dan diskor dimuat pada tabel 8 sebagai berikut.

Tabel 8
Data Analisis Hasil Belajar yang dicapai Siswa
Sebelum Tindakan dan  siklus Pertama dengan Pembelajaran Kooperatif tipe STAD
Interval nilai
Hasil pengamatan
Belum ada tindakan (So)
Siklus pertama (S1)
Frekuensi (f)
Presentase (%)
Frekuensi (f)
Presentase (%)
90 – 100
0 orang
0 %
0 orang
0 %
80 – 89
10 orang
33,3 %
3 orang
16,7 %
70 – 79
1 orang
13,3 %
7 orang
20 %
≤ 69
11 orang
53,3 %
12 orang
63,3 %
Jumlah
22 orang
100 %
22 orang
100 %

Siswa yang sudah mencapai ketuntasan belajar individual berdasarkan kriteri ketuntasan minimal MA Darus Shibyan Balung = 70 (tuntas) sebelum tindakan ada 11 siswa (46,7%) dari 22 siswa, sedangkan setelah siklus pertama siswa yang mencapai ketuntasan belajar ada 11 siswa (36,7%). Berarti setelah siklus pertama ini hasil belajar siswa mengalami penurunan.
Setelah didapat hasil belajar siswa, kemudian untuk memberi penghargaan pada kelompok dengan cara skor tes yang didapat dibandingkan dengan skor dasar/skor sebelum tindakan maka didapatlah  poin peningkatan individu, kemudian dilanjutkan dengan mencari poin peningkatan kelompok dengan cara merata-ratakan poin peningkatan individu tiap anak dalam satu kelompok. kelompok yang memperoleh peningkatan kelompok tinggi akan diberi penghargaan kelompok. Pada tes siklus 1 ini semua kelompok memperoleh penghargaan yang sama yaitu Good Team (Team yang baik), dengan point kelompok = 15.
c). Refleksi 
Refleksi dilakukan dengan menganalisis hasil tes dan observasi, serta menentukanperkembangan kemajuan dan kelemahan yang terjadi, sebagai dasar perbaikan pada siklus berikutnya.
Adapun kelemahan  yang terjadi pada siklus Pertama (SI) ini adalah :
1.      Sebagian siswa belum terbiasa dengan kondisi belajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Jadi kadang-kadang dalam kelompok belajar mereka masih bekerja sendirisendiri padahal kerjasama yang sangat diutamakan dalam pembelajaran kooperatif ini.
2.      Aktivitas berdasarkan deskriptor yang ditentukan oleh peneliti juga masih rendah terbukti baru 3 siswa (13,3%) yang sangat aktif dan 2 siswa (10%) yang aktif dari 22 siswa. Kedua kelemahan diatas akan digunakan peneliti untuk memperbaiki proses tindakan pada
siklus kedua. Berdasarkan refleksi tersebut maka dilakukan beberapa tindakan oleh peneliti :.
1)      Memberikan motivasi kepada kelompok agar lebih aktif  lagi, meningkatkan  kerjasama kelompok dalam pembelajaran.
2)      Lebih intensif dalam membimbing kelompok sehingga siswa akan lebih memahami materi  yang  diajarkan.
4.2 Hasil Penelitian Setiap Siklus
Berdasarkan hasil pengamatan deskriptor aktivitas dan hasil belajar siswa yang diperoleh pada setiap siklus dapat dilihat hasil rekapitulasi pembelajaran kooperatif tipe STAD pada tabel 9 berikut. 
Tabel 9
Data Hasil Pengamatan Deskriptor Aktivitas Siswa
Dengan  Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD pada Setiap Siklus
No
Diskriptor yang diamati
Hasil pengamatan
Siklus pertama
Siklus kedua
Siklus ketiga
Frekuensi (f)
Presentase (%)
Frekuensi (f)
Presentase (%)
Frekuensi (f)
Presentase (%)
1
Siswa bertanya pada guru
2 orang
17%
3 orang
33,3%
6 orang
50 %
2
Siswa dapat menjawab soal dari guru
11 orang
50 %
14 orang
70 %
9 orang
80 %
3
Siswa mempresentasikan hasil belajar kelompok
9 orang
40 %
4 orang
47 %
7 orang
60 %

Dari tabel 9 diatas, dapat disimpulkan bahwa  hasil pengamatan deskriptor siklus pertama, kedua dan ketiga dengan pembelajaran kooperatif tipe STAD mengalami peningkatan setiap siklus pada deskriptor siswa yang bertanya pada guru dari 11-14 Orang, dapat menjawab soal yang diberikan guru, dari 4-7 orang, sudah berani mempresentasikan hasil belajar kelompok dari 4-7 orang. Melihat kenyataan diatas, berarti deskriptor pada setiap siklus mengalami peningkatan. Dengan memperhatikan tiga macam deskriptor aktivitas siswa diatas pada setiap siklus dapat dilihat tingkatan aktivitas siswa dalam belajar pada distribusi frekuensi tabel 10 sebagai berikut.

Tabel 10
Distribusi Frekuensi Tingkat Aktivitas Siswa
Dengan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD pada Setiap Siklus
Tingkat aktifitas siswa
Hasil pengamatan
Siklus pertama
Siklus kedua
Siklus ketiga
Frekuensi (f)
Presentase (%)
Frekuensi (f)
Presentase (%)
Frekuensi (f)
Presentase (%)
Sangat aktif
3 orang
13,3 %
3 orang
13,3 %
6 orang
26,7 %
Aktif
2 orang
10 %
7 orang
30 %
8 orang
36,7 %
Cukup aktif
10 orang
46,7 %
11 orang
50 %
8 orang
36,7 %
Kurang aktif
7 orang
30 %
1 orang
6,7 %
0 orang
0 %
Jumlah
22 orang

22 orang

22 orang


Dari tabel di atas, distribusi frekuensi tingkat aktivitas siswa pada siklus kesatu sampai ketiga dapat disimpulkan bahwa dari 22 siswa mengalami peningkatan dari 3-6 orang pada tingkat aktivitas sangat aktif, 2-7 orang pada tingkat aktivitas aktif, 7-1 pada tingkat aktivitas cukup aktif, dan 8 orang sampai tidak ada lagi siswa yang kurang aktif pada siklus ketiga.

b). Hasil belajar
Ditinjau dari perolehan nilai hasil belajar pada setiap siklus yang telah diperiksa dan diskor dimuat pada tabel 11 sebagai berikut.
Tabel 11
Data Analisis Hasil Belajar yang dicapai Siswa
Pada Setiap Siklus dengan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Interval nilai
Hasil pengamatan
Siklus pertama (S1)
Siklus kedua (S2)
Siklus ketiga (S3)
Frekuensi (f)
Presentase (%)
Frekuensi (f)
Presentase (%)
Frekuensi (f)
Presentase (%)
90 – 100
0 orang
0 %
1 orang
3,3 %
2 orang
13,3 %
80 – 89
3 orang
16,7 %
3 orang
10 %
7 orang
30 %
70 – 79
6 orang
20 %
9 orang
43,3 %
5 orang
23,3 %
≤ 69
11 orang
63,3 %
9 orang
43,3 %
8 orang
33,3 %
jumlah
22 orang
100 %
22 orang
100 %
22 orang
100 %

Dari tabel 11 diatas, dapat disimpulkan bahwa dari 30 siswa pada siklus pertama (SI) belum ada siswa (0%) yang mencapai interval nilai 90-100, akan tetapi pada siklus ketiga 2 orang siswa (13,3%). Sedangkan 3-7 orang pada interval nilai  80-89,  6-9 orang siswa pada interval nilai 70-79,11-8 orang siswa pada interval nilai = 69.
Berdasarkan kriteria ketuntasan minimal (KKM) MA Darus Shibyan Balung yaitu = 70 (tuntas) jumlah siswa mengalami peningkatan pada setiap siklus yaitu siklus pertama sampai siklus ketiga. Pada tes siklus ketiga kelompok yang memperoleh penghargaan adalah kelompok 4 sebagai Super Team ( Team yang super) dengan poin kelompok 26,7.

c). Refleksi
1.      Aktivitas siswa dalam pembelajaran sudah mulai mengarah pada pembelajaran kooperatif tipe STAD. Siswa sudah mampu membangun kerjasama dalam kelompok untuk memahami tugas yang diberikan oleh guru. Siswa sudah berani bertanya, menjawab pertanyaan dan mempresentasikan hasil kelompok mengalami peningkatan, meskipun masih ada beberapa siswa yang masih kurang keaktifannya dalam kegiatan belajar mengajar.
2.      Siswa sudah mulai berani bertanya pada guru apabila ada kesulitan dalam belajar, siswa mulai aktif  menjawab pertanyaan dari guru walaupun masih ada beberapa siswa yang belum bisa menjawab, dan siswa mulai berani maju kedepan untuk mempresentasikan hasil belajar kelompok.
3.      Hasil belajar mengalami peningkatan pada setiap siklus dari 7 orang tuntas menjadi 14 orang siswa  tuntas yang nilainya = 70.

5. PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan selama tiga siklus dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.      Melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam kegiatan belajar. Hal ini dapat dilihat pada hasil observasi keaktifan siswa pada setiap siklus, pada siklus pertama (SI), siklus kedua (S2), dan Siklus ketiga (S3) dalam tiap deskriptor mengalami peningkatan.
2.      Melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat juga meningkatkan hasil belajar siswa dalam mengerjakan soal-soal matematika berbentuk essay. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan jumlah siswa yang tuntas dalam belajar yang didasarkan pada Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) di MA Darus Shibyan  Balung yaitu nilai = 70 (tuntas ), pada siklus pertama (S1) ada 9 siswa (36,7%) menjadi 13 siswa (56,7%) pada siklus kedua (S2) dan 14 siswa (66,7%) pada siklus ketiga (S3) dari 22 siswa.































DAFTAR RUJUKAN

Dimyati dan Mudjiono, 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.
Herman Hudojo, 1990. Srategi Belajar Mengajar Mata Pelajaran Matematika. Malang: IKIP Malang.
Kunandar, 2008. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jakarta:
Raja Grafindo Persada.
Nana Sudjana, 2005. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Rusman. 2010.Model-Model Pembelajaran. Edisi Revisi.Bandung: PT Raja Grafindo Persada.
Sardiman, 1996. Interaksi dan Motivasi Belajar mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Slameto, 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka  Cipta.
Soetjipto dan Raflis Kosasi, 1994. Profesi Keguruan. Jakarta: Bumi Aksara.
Suharsimi Arikunto, 2000. Menejemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.


Post a Comment

Previous Post Next Post